"Perih"
Waktu menunjukkan pukul 00.00 dan Nina belum bisa memejamkan matanya, sesekali ia menatap atap , melamun di kesendirian malam.
Ketahuilah , banyak orang tetap merasa kesepian, meski telah jatuh cinta.
Lalu sesekali air matanya membasahi pipinya, merasakan kesepian yang amat dalam, kesendirian nya setiap malam terakumulasi menjadi sesuatu yang bisa jadi akan meledak suatu saat nanti. Nina menyadari ada yang tidak beres di pernikahannya dengan Raka. Tapi Nina bisa apa?
Sabar..
Mungkin kata itu yang cocok untuk Nina,
Jikalah Sabar itu tidak ada batasnya, Mungkinkah Nina akan bertahan dengan kondisi yang tak biasa di pernikahan nya.
Kalau dulu ada pepatah mengatakan , kamu jauh tapi dekat dihati. Yang ia rasakan justru sebaliknya, kamu dekat tapi jauh dihati.
Ia menatap manusia disebelahnya, ya.. bayi Nina yang baru berusia 5 bulan.
Sesekali Ia membayangkan, jikalau perpisahan adalah yang terbaik untuknya,, dan Ia mungkin bisa bahagia dengan orang lain, bukan Raka, tapi bagaimana dengan nasib kedua anaknya?
Anaknya akan terlahir sebagai anak dari keluarga yang broken home,,Ia tidak sanggup membayangkan anaknya akan menerima celaan dari teman-teman sekolahnya sebagai anak broken home.
Teringat ia juga dilahirkan dari keluarga broken home. Ibu dan Ayahnya pisah, dan ia tidak ingin anaknya bernasib sama seperti dia juga.
Saat ini Nina bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Ibu dan Nenek nya yang sudah tidak bekerja, menjadi tanggungan nya
Kalaulah ia bisa memilih dimana ia dilahirkan, semua orang pasti akan memilih, Saya tidak mau menjadi tulang punggung keluarga, Sayangnya ia tak dapat memilih itu.
Yaa Tuhan,
Hapuskanlah rasa perih di hatiku ini,
Gantikan airmata dengan senyuman
Nina yakin, Tuhan akan menggantikan kesedihan nya dengan kesenangan nanti, entah itu di dunia, atau di akhirat nanti.
Perih ini ia simpan rapat-rapat, siapa tau nanti bisa sembuh sendiri
:)
No comments:
Post a Comment